**Judul: Bayangan di Lorong Sekolah**
Laras berjalan cepat di lorong sekolah dengan kepala tertunduk. Suara tawa dan bisikan di belakangnya terasa seperti jarum yang menusuk telinganya.
"Dasar aneh! Lihat tuh bajunya, kayak dari zaman dinosaurus!" seru salah satu suara di belakangnya.
Laras menggenggam tali tasnya erat-erat, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. Ia hanya ingin satu hal: sekolah cepat selesai dan ia bisa pulang ke rumah.
Sejak awal tahun ajaran baru, Laras menjadi sasaran ejekan beberapa siswi populer di sekolahnya, terutama oleh seorang gadis bernama Karin. Setiap hari, selalu ada hal baru yang dijadikan bahan olokan—cara Laras berpakaian, gaya rambutnya, atau bahkan caranya berbicara yang lembut dan pelan.
Suatu hari, Laras memberanikan diri untuk bertanya kepada Karin di depan kelas, "Kenapa kamu selalu mengejekku? Apa aku pernah berbuat salah padamu?"
Seluruh kelas terdiam. Karin hanya tersenyum sinis dan berkata, "Nggak ada yang salah sama kamu, Laras. Kamu cuma... terlalu mudah untuk diejek." Tawa pecah di ruangan itu, dan Laras merasa seperti tenggelam di lautan yang gelap.
Sepulang sekolah, Laras duduk di sudut kamarnya. Ia melihat cermin dan bertanya pada bayangannya sendiri, *"Apa aku seaneh itu? Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?"*
Namun, hari berikutnya, sesuatu yang berbeda terjadi. Seorang siswa laki-laki bernama Arif menghampirinya di perpustakaan. "Laras, aku lihat apa yang terjadi kemarin di kelas. Aku tahu kamu pasti capek menghadapi semua ini sendirian. Mau nggak kita bicara dengan wali kelas atau guru BK?"
Laras terdiam. Tidak ada yang pernah menawarkan bantuan sebelumnya. Setelah beberapa detik hening, ia mengangguk. Bersama Arif, mereka menemui wali kelas dan menceritakan semuanya.
Beberapa hari kemudian, Karin dan teman-temannya dipanggil ke ruang guru. Sekolah akhirnya mengambil tindakan tegas terkait perundungan. Mereka diwajibkan untuk mengikuti konseling dan meminta maaf kepada Laras di depan kelas.
Meski luka di hati Laras tidak langsung sembuh, ia merasa lega karena akhirnya ada yang mendengarkan suaranya. Arif tetap menjadi temannya, dan perlahan, Laras belajar untuk kembali tersenyum di sekolah.
**Pesan cerita:** Terkadang, keberanian untuk berbicara adalah langkah pertama untuk mengakhiri perundungan. Tidak ada yang pantas diperlakukan dengan tidak hormat, dan setiap suara berharga untuk didengar.